Peralatan dari Tulang Manusia

Temuan terbaru para ilmuwan membuktikan manusia Neanderthal menggunakan tulang-tulang manusia sebagai alat asah.

OLEH: VIFI
Dibaca: 590 | Dimuat: 22 Desember 2010

SEKELOMPOK ilmuwan menemukan peralatan paling awal dalam peradaban yang terbuat dari tulang manusia –dan tampaknya dibuat oleh manusia Neanderthal, demikian diberitakan edisi online Journal of Human Evolution pada 4 Desember.

Namun mereka belum bisa membuktikan atau menyangkal apakah peralatan itu dibuat sengaja, misalnya, untuk ritual atau hanya sisa-sisa kanibalisme.

Hingga saat ini, bukti tertua pemakaian tulang manusia dalam ritual atau peralatan adalah gigi-gigi berlubang yang diperkirakan berusia 30.000 hingga 34.000 tahun, yang ditemukan dalam sebuah penggalian di barat-daya Prancis. Gigi-gigi itu digunakan sebagai ornamen.

Saat ini para ilmuwan mengidentifikasikan pecahan tengkorak manusia berusia setidaknya 50.000 tahun yang diperkirakan digunakan sebagai alat pengasah. Ia ditemukan di deposit Neanderthal. Neanderthal adalah subspesies manusia yang secara anatomis berbeda dari kita, manusia modern.

Tulang itu kali pertama digali pada 1926 di situs penggalian La Quina, di kaki tebing batu kapur di dekat Sungai Voultron, barat-daya Prancis. Ia ditemukan bersama artefak dari zaman industri Mousterian, sebuah metode pembuatan alat-alat batu yang dikaitkan dengan Neanderthal. Karena pecahan-pecahan itu tak memberikan informasi tentang anatomi manusia, selama bertahun-tahun hasil penemuan itu hanya tersimpan di sebuah museum di Lyon, Prancis.

Fungsi sesungguhnya dari tulang-tulang itu baru diketahui setelah Christine Verna, paleoantropolog Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, memutuskan untuk melakukan penelitian ulang.

Dengan menggunakan analisis mikroskopis atas pecahan tulang itu, dia dan sejawatnya, Fransesco d’Errico dari University of Bordeaux, Prancis, menemukan bukti bahwa tulang-tulang itu digunakan untuk mengasah “mata-pisau” peralatan batu. Mereka juga menemukan tanda goresan, yang kemungkinan besar berasal dari proses pembersihan tulang itu sebelum pecah menjadi beberapa bagian. Tulang itu kemungkinan besar adalah tulang seorang manusia Neanderthal, karena hanya ditemukan di deposit Mousterian di La Quina.

Sejumlah tulang binatang di situs itu, termasuk rahang rusa dan gigi kuda, juga digunakan sebagai alat pengasah. Sebelumnya tak ada alat serupa yang dibuat dari tulang manusia. Inilah keistimewaan penemuan ini, sekaligus menunjukkan kemungkinan bahwa tulang manusia sengaja dipilih sebagai sebuah alat.

“Ini bisa berarti bahwa tulang manusia tak dilihat berbeda dengan tulang binatang. Dengan kata lain, tubuh manusia diperlakukan sama dengan tubuh binatang. Yang berarti tak ada makna simbolis apapun mengenai kematian,” ujar Verna. “Sebaliknya, tulang itu juga bisa merefleksikan proses tertentu yang kemungkinan besar punya makna tertentu tapi kita belum tahu makna itu.”

Menurut Verna, temuan itu memperlihatkan betapa masih sedikit informasi tentang hubungan masyarakat Paleolitik dan bagaimana mereka mempersepsi kematian, dan mungkin ada beragam cara mereka memperlakukan orang-orang yang sudah mati.

“Mengenai Neanderthal, debat biasanya fokus pada hipotesis tentang kanibalisme dan proses pemakaman. Kami tahu bahwa beberapa kelompok Neanderthal, di wilayah dan kurun waktu tertentu, menguburkan orang-orang yang telah mati. Namun ini hanya sebagian kecil dari kemungkinan kebiasaan mereka yang sangat luas. Tak mungkin kebiasaan itu berlaku jamak di kalangan masyarakat Neanderthal di seantero Eurasia dalam berbagai kurun waktu evolusi mereka.”

Penelitian di masa mendatang harus melihat dengan seksama koleksi lama tulang-tulang manusia Paleolitik untuk mencari jejak penggunaannya. Juga melihat lebih teliti temuan tulang-tulang binatang purba untuk mencari tulang manusia yang mungkin tersembunyi di antara peralatan hidup lainnya.

“Dengan harapan, kita menemukan lagi contoh seperti ini. Jika kita bisa menemukan lebih banyak lagi, ini akan mendukung teori bahwa tulang-tulang itu memang dengan sengaja digunakan sebagai alat oleh manusia Neanderthal atau manusia dalam periode evolusi lainnya.” [VIFI/Live Science]

TERKAIT
Isi Komentar
Komentar 0
Nama
Email
ARTIKEL TERDAHULU

Diperlakukan sewenang-wenang, petani di sejumlah wilayah di Tiongkok berontak.

Roto tak hanya menjadi panakawan atau pendamping Diponegoro. Dia pandai membuat plesetan kata dan membanyol.

Seorang uskup menumpuk kekayaan dengan berbisnis, bahkan dengan cara yang dianggap perbuatan dosa. Di perjalanan, kekayaan itu dibajak perompak.

Majalah Historia Headquarters
Jl. Wahid Hasyim No. 194 | Jakarta Pusat | Indonesia
Historia © 2012 | Privacy Policy
del